Halaman

Minggu, 06 Januari 2013

Bukti Teknologi Manusia Meniru Teknologi Ciptaan Tuhan


Dalam menemukan teknologi baru, manusia dan alam semesta selaku ciptaan Tuhan saling serasi. Kadang manusia yang lebih dulu menemukan suatu teknologi, tetapi ternyata alam sudah lebih dulu memakainya.

Kelihatannya dalam lomba ini, manusia yang menemukan suatu prinsip dalam teknologi, padahal sebenarnya sudah ada di alam karena Tuhan memang sudah menetapkan hukum atasnya demikian, sedangkan manusia belum lama memulainya. Umat manusia dengan berbagai penemuan baru terus berinovasi dan mempelajarinya dari alam. Contohnya roda bulat, roda diperlukan  untuk mempercepat jalannya suatu benda. Mesin uap untuk menggantikan tenaga kuda, motor bahan bakar untuk menghasilkan tenaga yang menggantikan mesin uap. Begitu juga roket persawat terbang, termasuk pesawat ulang-alik untuk mencapai bulan. Semua itu tidak disediakan alam begitu saja, tapi ketahuilah bahwa ciptaan Tuhan sudah sejak diciptakannya memakai teknologi yang baru diketemukan itu.

Teknologi Dari Alam
Setelah dipelajari lebih dalam, ternyata alam lebih sudah lengkap menyediakannya. Prinsip kerja daya dorong roket ternyata sudah dipakai lebih dulu oleh ubur-ubur. Ide dasar dalam pembakaran dua bahan kimia menjadi bahan bakar roket dalam satu ruang yang sama, ternyata juga digunakan oleh kumbang pembom Brachynus crepitans.

Di Jepang, sebuah kamar hotel supermurah yang dibangun khusus untuk ukuran tubuh manusia. Kondisi kamar itu diberi lampu untuk membaca dengan fasilitas pesawat TV pada dindingnya, tetapi kamar berbentuk sel-sel itu disusun bertingkat, sehingga sangat hemat ruang. Ini adalah suatu inovasi yang mengagumkan. Namun jangan salah, ternyata Tuhan telah menciptakan teknologi itu lebih dulu pada lebah. Sel yang dibangun pada kamar hotel tersebut dipakai juga oleh lebah yang pas untuk badan seekor lebah yang mau tidur.

Begitu juga simpul tali tambang untuk mengikatkan sesuatu. Sebuah kapal laut yang besar misalnya, semakin banyak lingkaran tali sebagai simpul pada tiang tambatan pada dermaga, makin makin kuat tali tersebut mengikat si kapal itu. Lain pula halnya dengan Liana, sejenis tanaman pemanjat yang banyak tumbuh di hutan belantara. Tanaman ini juga sudah lebih dulu menerapkan teknologi agar bisa kokoh tertambat pada batang pohon lain di sekitarnya. Semakin banyak melilitkan akarnya, maka semakin kokoh tanaman ini menahan tarikan atau hembusan angin.

Lain pula halnya dengan kabel telepon yang kita kenal berbentuk spiral dimana sejak tahun 40-an (di Amerika) telah dipakai untuk menggantikan kabel kuno yang gepeng itu, ternyata juga sudah digunakan oleh tanaman markisah Passiflora vividiflora untuk mengaitkan rantingnya pada tanaman di sekitarnya. Makdud tanaman ini berbuat demikian adalah karena tumbuhan ini di hutan belantara selalu diterpa angin, sehingga perlu fleksibilitas tinggi agar tidak putus bila sewaktu-waktu datang hembusan angin yang kuat.

Di bidang olahraga, misalnya lomba loncat galah di suatu arena atletik. Pemakaian galah kayu yang mampu menahan berat beban bobot orang dewasa sehingga mampu meloncati garis ketinggian tertentu, ternyata menggunakan teknologi daya pental batang kayu. Di alam, teori ini digunakan batang gandum untuk menahan berat beban setiap bulir buahnya. Berat batang gandum yang hanya 0,8 g, begitu juga galah tadi yang beratnya hanya 2 kg mendasari prinsip kerjanya yang sama. Bentuk pembuluh yang ada pada kedua bidang tersebut dapat menghemat bobot, begitu juga pada jaringan kayu yang tahan tarikan, sehingga membuat batang tersebut memiliki stabililtas yang luar biasa. Dan keduanya dapat memantulkan beban yang beberapa kali  lebih besar dari bobot sebenarnya.

Teori Kubah Geodetis dan Radar.
Dalam karya arsitek Richard Buckminster Fuller, menghasilkan sebuah karya yang menakjubkan. Dengan perhitungan matematis yang rumit, ia berhasil mengembangkan sebuah kubah geodetis. Prinsip kerja kubah ini tidak memerlukan batu semen lagi untuk membuatnya sebagaimana kubah kuno gedung kapitol Amerika atau gereja Santo Petrus di Roma. Teori yang dipakai menggunakan batangan-batangan besi yang saling dilekatkan satu dengan lainnya memakai sekrup. Kombinasi segi tiga atau segi enam yang dihasilkan batangan ini bisa menampung daya tekan kubah yang amat berat secara bersamaan dan meneruskannya secara merata ke tanah.

Teori kubahnya ini yang pertama kali dipraktekkan pada tahun 1953 di atas gedung kantor pusat Ford Company di Detroit, sehingga menimbulkan sensasi besar. Luas ruang yang dipayunginya sangat menakjubkan, bisa sampai bergaris tengah 28 m dengan berat kubah itu sendiri yang hampir 8,5 ton.

Lalu, apakah teori ini bukti keunggulan hasil inovasi pikiran manusia? Ternyata tidak! Para bioglog beberapa tahun kemudian dengan memakai mikroskop elektron, dalam penelitiannya menemukan dunia renik yang menakjubkan yang memakai prinsip ini. Sekumpulan ganggang kersik Diatomeae, yang berkerangka kapur, telah lebih dulu menggunakan prinsip kubah tadi, persis seperti kubah ciptaan si Fuller.

Dari segala fenomena di atas, ternyata Allah SWT lewat ciptaan-Nya yakni alam semesta telah menciptakan berbagai makhluknya yang dimodali dengan berbagai teknologi yang lambat laun dipakai manusia. Tidak perlu jauh-jauh, seperti inovasi teknologi komputer misalnya. Atau sistem pecarian benda di kegelapan pada kelelawar. Sistem yang digunakan kalelawar ternyata sama persis dengan radar yang dikembangkan Gregory Breit dan Merle A. Tuve, dua orang fisikawan Amerika .

Kelelawar lewat hidungnya, memekikkan suara berfrekuesi tinggi yang nantinya akan dipantulkan oleh tubuh serangga yang diburunya di kegelapan. Pantulan ini akan ditangkap oleh telinga dan diolah datanya dalam otak. Nah, data inilah yang digunakan si kelelawar untuk menetapkan posisi serangga kecil yang diburunya dalam kegelapan itu. Sama halnya dengan pesawat radar temuan manusia. Sebuah radar juga menyiarkan gelombang elektromagnetik berfrekuensi tinggi ke segala arah guna mengindentifikasi benda yang dicari di kegelapan. Data pantulan yang dipantulkan, akan direkam oleh komputer yang kemudian menguraikannya menjadi sebuah data posisi musuh yang akan menyerang, sehingga sebelum sebuah rudal sampai ke sasaran tembaknya, sudah bisa dihancurkan lebih dulu oleh senjata roket penangkal.

Oleh sebab itu, makin banyak teknologi pengetahuan yang ditemukan manusia di kemudian hari, ternyata akan makin banyak pula kesamaan-kesamaan yang akan tampak dengan "penemuan ciptaan Allah" sebelumnya.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar